Titipan Sang Mutiara

Karya: Eka Sri Melati │ Editor: Muhamad Fajri

0
Ilustrasi (Gambar oleh Karen Smits dari Pixabay)

Malam itu, Rila duduk di bawah sinar rembulan melihat keindahan angkasa yang dipenuhi bintang berkelap-kelip. Lalu, memejamkan mata menikmati suara jangkrik yang turut meramaikan kesunyian dalam kehidupan. Tiba-tiba, seseorang dari kejauhan menghampirinya dengan menunggangi kuda.

Hah! Suara apa itu?” pikir Rila sambil membuka matanya dalam keadaan tercengang.

Pangeran berkuda?”, sambil mengusap matanya.

Apakah aku berada di negeri dongeng? Ah, tidak mungkin!” gumam Rila dalam hati.

Terdengar suara dari kejauhan.

“Hey! Cepat beranjak dari tempat itu!” teriak seseorang yang menunggangi kuda.

“Lah, kok aku disuruh pergi?” ucap Rila heran.

“Cepatlah! Tidak ada waktu lagi!” ujar orang misterius itu.

Setelah beberapa kali orang misterius itu memperingatkan Rila untuk segera pergi, tapi Rila tidak beranjak sedikitpun malah diselimuti rasa penasaran dan kebingungan hingga.

“Aduh sakit…” pekik Rila yang jatuh dari kasur.

“Eh, Kenapa aku ada di sini?” Melirik ke arah Handphone disampingnya.

“Astaga! Ternyata ini yang membuatku terbangun” ujar Rila sambil mengusap dahi dan seraya mematikan alarm.

***
Hari ini, tepatnya tanggal 11 Juli 2017 ia genap berusia 17 tahun. Ya, dia adalah Rila Amelia seorang gadis yang akrab disapa Rila oleh teman-temannya. Ia putri pertama dari Pak Khairul dan Bu Salma. Rila juga memiliki 3 orang adik perempuan yakni Najwa, Syifa dan Helena.

Di sekolah.

Rila berjalan melewati koridor sekolah dengan perasaan gembira, ia berharap jika nanti sampai di dalam kelas temannya mengucapkan “Selamat ulang tahun” kepadanya. Sesampainya di kelas, tidak ada satupun yang ingat dan mengucapkan kata itu termasuk teman terdekatnya hingga jam pembelajaran usai.

“Tidak ada satupun yang ingat hari ulang tahunku?” tanya Rila dalam hati.

Rila pun mengayuhkan sepedanya dengan rasa kesal, tiba-tiba seseorang yang tak asing mulai mendekatinya, dan orang itu adalah Santi. Santi memang bukan dari sekolah yang sama dengan Rila, tapi ia sudah menganggap Rila seperti adiknya sendiri.

“Rilaaa…” teriak Santi.

“Eh, itukan ka Santi?” gumam Rila dalam hati, sambil menoleh ke belakang.

Seketika Rila behenti mengayuh sepeda dan menunggu Santi agar bisa pulang bersama.

“Huff! Akhirnya sampai juga” ujar Santi kelelahan.

“Hehehe,,, maafin aku ya ka?” pinta Rila.

“He? Kenapa harus minta maaf, kamu kan nggak salah?” tanya Santi.

“Soalnya tadi aku lupa nungguin kakak disimpang tempat kita bertemu” jelas Rila.

“Oh itu, nggak apa-apa kok.” Santi tersenyum.

“Oh iya, kakak ada sesuatu nih buat kamu” sambung Santi sembari menyerahkan sesuatu.

“Wah, apa ini ka?” Rila penasaran seraya mengulurkan tangan menerima pemberian Santi.

“Selamat ulang tahun ya, semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan bisa membanggakan kedua orang tua serta terwujud segala yang dicita-citakan, Aamiin…” ucap Santi penuh harap.

“Masya Allah, terima kasih ka atas do’a dan kadonya” Rila terharu.

“Iya La, sama-sama.” Santi tidak bisa senyumnya tanda bahagia.

Suasana haru dan bahagia terpancar dari raut wajah Rila yang tidak menyangka bahwa masih ada yang mengingat hari istimewanya. Merekapun pulang bersama-sama. Sesampainya di rumah, Rila disambut oleh adiknya Syifa yang tersenyum sumringah.

“Happy Birthday kakakku” terdengar Syifa mengucapkan selamat ulang tahun. Mendapatan sambutan demikian tak terasa air mata Rila jatuh tanpa suara.

“Mana kado untukku, ka?” gurauan Syifa sambil mengulurkan tangan kanannya memelas manja.

“Heh? Harusnya kakak yang dikasi kado, hayo! Mana kado untuk kakak?” goda Rila kepada adikknya.

“Hehe, aku kan masih kecil ka” Syifa melakukan pembelaan.

“Do’a yang tulus darimu itu sudah cukup bagi kakak Fa…” timpal Rila sembari tersenyum, dan Syifa mengulum senyum tanda bahagia.

“Oh iya ka, pagi tadi setelah kakak berangkat ke sekolah, ka Santi datang kerumah kak. Tapi karena kakak sudah berangkat dia pun langsung pergi aja ka. Apakah ka Santi sudah bertemu dengan kakak?” tanya Syifa mengalihkan topik pembicaraan.

“Hmmm, sudah kok. Tadi kami pulang sekolah bareng, dan kakak dikasih ini oleh ka Santi,” jawab Rila sambil mengeluarkan kado pemberian Santi dari tas sekolahnya.

“Wah! Apa isinya tuh ka? Dibuka dong ka, aku mau lihat” pinta Syifa penasaran.

“Nanti malam kita buka sama-sama, oke?” sahut Rila.

“Yahhh, kakak mah gitu” sambut Syifa lesu.

Teriknya mentari seketika meredup karena akan menjelma senja. Tak terasa waktu cepat berlalu. Rila mengajak adiknya Najwa pergi ke pasar mencari sesuatu yang nantinya akan dimakan bersama. Setelah beberapa lama berkeliling pasar, Rila melihat makanan kesukaannya yaitu sate. Lalu Rila membeli beberapa bungkus sate untuk dimakan bersama-sama di hari ulang tahunnya. Hari semakin gelap, mereka pun bergegas pulang karena mengingat perjalanan yang cukup jauh.

***
Di rumah.

“Kakak dari mana?” tanya Syifa.

“Kakak ke pasar beli ini untuk kita semua” jawab Rila sambil memperlihatkan barang bawaannya.

“Yuk kita makan bersama!” sambung Rila.

“Sisain punyaku ya ka, soalnya aku mau ngaji dan nanti ada acara di rumah guruku” ucap Syifa.

“Nak, malam ini libur aja ngajinya. Cuaca lagi kurang bagus di luar, sebagai gantinya ngaji di rumah aja ya!” ujar Ibu Salma selaku orang tua mereka.

“Nggak bisa Bu, aku ingin cepat khatam dan ingin lanjut menghafal Al-Qur’an” ucap Syifa lirih.

“Fa… benar kata Ibu, kayaknya nanti bakal turun hujan,” sambung Rila.

***
“Syifa… Syifa… mari kita berangkat mengaji! Sebentar lagi mau adzan Maghrib nih” teriak Adit yang masih terhitung saudara bag Rila dan adik-adiknya.

“Iya, sebentar ka” sahut Syifa.

“Bu, aku pergi mengaji ya? Assalamu’alaikum” sambung Syifa semangat.

“Wa’alaikumussalam, hati-hati di jalan ya, nak!” ucap Ibu Salma khawatir.

Waktu terus berjalan, tak terasa sudah jam 19.35 WIB dan sebentar lagi Syifa pulang mengaji. Beberapa menit kemudian, Adit datang ke rumah dengan wajah panik dan cemas dan nafasnya tersengal.

“Eh Adit, di mana Syifa?” tanya Ibu Salma dengan nada gelisah melihat gelagat Adit tak biasa.

“Ehmmm, Syifa itu…Syif…” Adit gemetar menjelasakan.

“Syifa mana, Dit? Dia baik-baik saja kan?” Salma terlihat semakin gelisah.

“Syifa tiba-tiba nggak bisa menggerakkan badannya dan sekarang dia berada di rumah Pak Ali Bu” ujar Adit sambil menundukkan kepala. Ali adalah guru ngaji mereka.

Mendengar hal itu, pak Khairul dan ibu Salma serta putri bungsunya Helena bergegas pergi melihat keadaan putri ketiganya tersebut. Sedangkan Rila dan Najwa menunggu di rumah selagi orang tuanya pergi. Sesampainya di sana, mereka melihat putrinya yang terkapar tak berdaya dan sekujur tubuhnya dingin dan kaku. Semua orang yang berada di sana coba tuk membangunkannya, ia hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan tanpa bisa memberi tanggapan. Entah apa yang membuatnya jadi selemah itu, hingga perlahan-lahan menjalar keseluruh tubuhnya. Melihat keadaannya yang semakin memburuk, ia langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa.

***

Di rumah sakit.

“Dok, tolong anak saya!” teriak pak Khairul sembari berlari menggendong Syifa.

“Silahkan ikuti saya dan tolong isi form pendaftarannya terlebih dahulu” sambut seorang suster.

Pak Khairul meletakkan Syifa di sebuah ranjang pasien di ruang penanganan umum.

“Sus? apakah tidak bisa ditangani terlebih dahulu? Form dan persyaratan akan saya lengkapi sus! Tapi tolong segera ambil tindakan untuk anak saya!” pinta Khairul cemas.

“Maaf Pak, ini sudah ketentuan dari rumah sakit. Bapak harus isi data ini terlebih dahulu dan melengkapinya, setelah itu baru ditangani” suster menjelaskan kepada pak Khairul.

Kejadian yang terjadi di depan matanya, membuat Rila berpikir dan bertanya-tanya ‘kenapa sih mereka lebih mementingkan sebuah kertas ketimbang menyelamatkan nyawa seseorang’ Rila merasa kesal. Setelah semua syarat terpenuhi, barulah adiknya Syifa ditangani oleh dokter. Tak lama setelah itu, salah satu guru Syifa membisikkan sesuatu ke telinganya.

“Syifa, bangunlah nak! Apakah kau mendengarkan Ibu?” ungkap salah satu guru ngajinya yakni Bu Hasna.

“Uhukk.. uhuukkk…”,  batuk Syifa mengeluarkan cairan berwarna hitam kecoklatan dari mulutnya, lalu kembali terbaring.

Sungguh, keadaan Syifa saat ini benar-benar buruk. Jantungnya mulai melemah dan dokter menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

“Yah, aku ikut ya?” pinta Rila keadaan pak Khairul.

“Kamu di rumah aja, jagain adik-adikmu. Lagian kamu kan sekolah, jadi biar Ayah, Ibu dan Helena saja yang pergi” perintah pak Khairul.

“Tapi Yah, aku juga ingin jaga Syifa! Jika kami tidak boleh ikut, kenapa Helena boleh?” tanya Rila sembari memohon agar diizinkan Ayahnya.

“Helena itu masih kecil, tentu dia tidak bisa jika kami tinggal!” tegas Khairul.

Sebelum mereka berangkat, Rila dan Najwa dititipkan ke rumah Neneknya. Hanya do’a yang bisa Rila sambungkan ke ujung langit agar adiknya cepat pulih dan bisa berkumpul bersama lagi. Berbeda dengan hari sebelumnya, Rila berangkat ke sekolah dengan setengah hati dan lesu.

***
Di sekolah.

“Hello Rila!” sapa Dewi  ke Rila.

“Hai…” Rila melihat Dewi yang sudah ada didepannya.

“Kamu kenapa La? Tumben wajahmu lesu seperti ini” ujar Dewi dengan wajah penasaran.

“Hmm… aku nggak apa-apa kok Wi” sahut Rila berbohong.

“Ah, masa? Sudahlah La, aku itu tahu kamu orangnya seperti apa. Pasti ada yang kamu sembunyikan” ujar Dewi tidak percaya. 

Deraian air mata Rila jatuh seketika, bagaimana tidak? Ia sangat merindukan Syifa. Melihat Rila menangis, Dewi langsung memeluk dan berusaha menenangkan Rila. Rila terkenal sebagai seseorang yang ceria, tangguh dan ia selalu menghibur temannya. Setiap hari yang ia jalani dipenuhi dengan senyuman, namun semua itu telah menghilang seketika setelah ia melihat adiknya yang terbaring kaku hingga tak mampu berbuat apa-apa. Oleh karena itu, Dewi merasa ada yang aneh dengan Rila yang sekarang dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

“Wi! aku takut” ujar Rila penuh isak tangis.

“Takut? Emangnya ada apa, La?” tanya Dewi penasaran.

Kemudian Rila menceritakan apa yang telah terjadi kepada Dewi hingga sesak yang ia rasakan sedikit demi sedikit berkurang. Dewi mengusap air mata yang berjatuhan di pipi Rila dan memberikan semangat agar Rila kuat menjalani cobaan yang diberikan.

***
Sepulangnya dari sekolah.

“Kring… kring..” HP Rila bergetar dan berdering

“Ka! Ibu menelpon” teriak Najwa sembari memberikan Hp kepada Rila.

“Hallo! Assalamu’alaikum, Bu?” sapa Rila.

“Wa’alaikumussalam nak, kalian apa kabar?” jawab bu Salma sambil bertanya.

“Alhamdulillah, baik Bu! Bu, bagaimana keadaan Syifa?” tanya Rila.

“Keadaan Syifa saat ini sedikit membaik, nak. Sekarang dia sudah bisa menggerakkan badannya walau hanya sebentar dan dia juga bisa bicara walau terbata-bata” jelas bu Salma.

“Syukur Alhamdulillah, semoga Syifa lekas pulih dan bisa pulang ke rumah untuk kumpul bersama lagi ya, Bu!” harap Rila.

“Aamiin, do’akan saja ya, nak! Oh iya, udah dulu ya? Ibu dipanggil suster nih assalamu’alaikum!” sahut bu Salma sembari mematikan HP-nya dan menutup dengan salam.

“Wa’alaikumussalam, Bu!” jawab Rila.

Setelah mendapatkan kabar gembira dari Ibunya, Rila langsung memberitahukan hal itu ke seluruh anggota keluarganya. Rencananya sekitar jam 14.30 WIB, Rila akan ke rumah sakit bersama saudaranya untuk menjenguk Syifa.

***
Di rumah sakit.

“Dok, kenapa tiba-tiba anak saya kembali melemah? Padahal tadi baik-baik saja malah hampir pulih” ujar pak Khairul cemas.

“Sebentar ya, Pak? Kami akan segera ambil tindakan untuk memeriksanya lebih lanjut!” jawab dokter.

Beberapa menit kemudian.

“Bapak dan Ibu mari ikut saya ke ruangan saya” ajak dokter kepada kedua orang tua Syifa.

“Oh baiklah dok” orang tua Syifa menjawab serempak, seraya bergegas mengikuti dokter masuk ke ruangannya.

“Bapak dan Ibu silahkan duduk dulu” ucap dokter ramah.

“Iya dok, terimakasih” timpal Ayahnya Syifa seraya duduk dan diikuti Ibu Syifa duduk disampingnya.

“Bapak,,, Ibu! Berdasarkan hasil pemeriksaan, putri Bapak dan Ibu mengalami pendarahan di otak, sekarang gumpalannya masih kecil akan tetapi jika tidak ditindak lanjuti maka akan bertambah besar” ujar dokter seraya menyerahkan hasil pemeriksaannya.

“Saya menyarankan untuk sesegera mungkin putri Bapak dan Ibu harus dioperasi” sambungnya.

“Tidak mungkin dok, Astaghfirullah” bu Salma menangis tidak percaya apa yang terjadi saat ini dengan anaknya, ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Maaf, itu berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan!” ucap dokter kembali.

Tapi masih bisa normal kembali kan dok?” tanya pak Khairul.

“Bisa saja Pak, namun putri Bapak dan Ibu harus segera dioperasi supaya gumpalan darah yang ada di otaknya tidak ada lagi” sambung dokter kembali.

 “Mas, kita bawa Syifa pulang aja ya! Kita obati dia di rumah saja” bujuk bu Salma ke suaminya.

“Kamu lupa apa yang dikatakan dokter tadi? Syifa harus segera dioperasi, jika tidak keadaannya semakin memburuk,” tegas Khairul.

“Tapi mas” sambil menangis bu Salmatak bisa melajutkan kata-katanya.

Bu Salma tetap bersikeras untuk membawa anaknya pulang, tapi dokter mencegahnya karena ditakutkan akan terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi. Akhirnya, bu Salma meredam egonya dengan syarat anaknya harus mendapatkan perawatan yang terbaik. Kemudian pihak rumah sakit merujuk anak mereka untuk dibawa ke Rumah Sakit Swasta dan tentunya mengeluarkan uang yang banyak. Lalu kedua orang tua Syifa menyutujuinya meski dengan harga yang cukup mahal, karena bagi mereka apalah arti kekayaan jika kehilangan orang tercinta.

***
Sementara itu di rumak nenek.

“La, nanti kalau udah sampai di rumah sakit sampaikan salam Nenek ke Ayah dan Ibumu ya! Nenek nggak bisa ikut, soalnya siapa yang jaga rumah?” pinta Nenek kepada Rila.

“Baik Nek! Nanti Rila sampaikan begitu tiba di sana ya?” sahut Rila sembari mengemasi pakaiannya ke dalam tas.

“Oh iya, aku belum kabari ibu kalau aku mau ke sana” ucap Rila sambil menepuk dahinya, dan kemudian mengambil HP untuk menelon ibunya.

“Hallo Bu? Aku..” ucap Rila terhenti.

“Nak, Syifa akan segera dioperasi di Rumah Sakit Swasta. Kamu jagain Najwa ya, sekarang Ibu dan Ayah di perjalanan menuju Ibukota” potong bu Salma.

“Tapi bukannya Syifa berangsur pulih, kan Ibu yang bilang? Aku baru saja hendak kesana, sekarang sudah beres-beres” ujar Rila kecewa.

“Iya nak, tadi Syifa tiba-tiba drop dan dokter bilang ada gumpalan darah beku di kepala adikmu” tegas Salma kembali sambil menahan tangisannya.

“Ya Allah! Bu, Rila ingin ikut ” pinta Rila.

“Jangan sayang, lagian di rumah sakit nggak boleh terlalu ramai!” timpa bu Salma.

Rila merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan adiknya dan bahkan kini Syifa dibawa lebih jauh lagi darinya.

***
Ditengah perjalanan menuju Ibukota.

Truttt,,, truttt,,, terdengargetar HP suster yang berada di Ambulance.

“Hallo?” suster mengangkat telponnya.

“Iya sus, saya baru saja mendapatkan konfirmasi dari pihak Rumah Sakit Swasta yang ada di Ibukota. Mereka memberitahukan bahwa di rumah sakit itu sudah penuh, oleh karena itu pasien atas nama Syifa dialihkan ke Rumah Sakit Umum di Ibukota” ujar pihak RSUD.

“Baiklah!” ucap suster kembali.

“Pak, kita tidak jadi di Rumah Sakit Swasta akan tetapi dialihkan ke Rumah Sakit Umum ya, Pak!” ujar suster kepada sopir Ambulance.

“Oh, baiklah sus” jawab sopir Ambulance.

Mendengar hal itu, tiba-tiba bu Salma minta agar mobilnya dihentikan dan ia ingin bicara dengan dokter, “Kenapa tiba-tiba diubah begitu saja? Apakah tidak bisa mencari Rumah Sakit Swasta lainnya?” gumam bu Salma dalam hati. Jika tidak, bu Salma meminta agar dibawa pulang saja. Akan tetapi, di karenakan sudah hampir sampai, mereka tidak mendengarkan apa yang bu Salma ucapkan. Mereka bilang bahwa semua Rumah Sakit di Ibukota rata-rata semuanya penuh. Maka mau tidak mau, bu Salma kembali mengikuti apa yang mereka katakan asal itu terbaik bagi anaknya.

***
Di rumah sakit.

Syifa dibawa ke ruangan ICU dan dipasang infus. Di sekujur tubuhnya dipasangi selang seperti alat bantu pernafasan dan lain sebagainya. Dengan bantuan alat medis, ia sudah bisa sedikit merespon sesuatu. Perasaan orang tuanya sangat hancur kala melihatnya terbaring seperti itu dan yang lebih mengharukan lagi, setiap terdengar adzan ia selalu terjaga karena ingin Sholat dan ia hanya bisa mengangkat tangannya kala itu.

Dua hari kemudian.

Hari ini merupakan jadwal operasi Syifa, sebelum itu dilakukan rambut Syifa harus dipotong dan dicukur karena yang dioperasi adalah kepalanya. Syifa tidak ingin rambutnya dipotong, ia sempat menangis kala itu.

“Yah, jangan potong rambutku!” pinta Syifa terbata-bata sambil mengeluarkan air mata.

Ayahnya pun tidak berani memotong rambut putrinya itu, lalu diserahkan kepada Arif yang merupakan Pamannya Syifa. Sebenarnya Arif juga tak tega melihat setiap potongan rambut diiringi tangis Syifa, Arif juga meneteskan air matanya.

“Bu, lihatlah! Kini aku gundul, rambut yang sejak lama kurawat kini telah menghilang” ungkap Syifa sedih semua yang ada di sana menahan tangisannya.

***
Di ruangan operasi.

Dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa Syifa dan saat itu juga petir bergemuruh, kilat menyambar-nyambar seakan memberi sebuah petanda. Semua berdo’a agar operasinya berjalan lancar.

Beberapa jam kemudian.

Akhirnya, operasi pun usai dan Syifa sudah siuman. Akan tetapi, karena ia masih baru siap operasi jadi keadaannya masih lemah dan belum terlalu stabil. Ia disuntik sebanyak 3 kali, disuntikan pertama Syifa baik-baik saja. Lalu pada suntikan kedua timbul bintik-bintik kuning di sekujur tubuh hingga membuat cemas orang tuanya. Setelah itu ia kejang-kejang kala disuntikan ketiga hingga membuatnya menghembuskan nafas terakhir.

“Syifa,,, bangun, nak! Ini ibu” teriak bu Salma seraya memeluk Syifa.

Kesedihan memuncak saat Syifa menutup mata untuk selama-lamanya. Orang tuanya merasa sangat terpukul dan tangisan tak bisa dibendung lagi terutama bu Salma selaku ibunya Syifa. Ia berulang kali mengatakan bahwa Syifa masih bisa diselamatkan.

Syifa adalah anak yang kuat!” ujarnya.

Kabar itu sudah sampai ke telinga saudaranya di kampung. Akan tetapi, Rila dan Najwa belum mengetahuinya karena mereka berada di sekolah.

***
Di sekolah Rila.

Rila sedang bermain dengan teman-temannya di lapangan, tiba-tiba salah satu temannya menyampaikan bahwa ia dipanggil ke meja piket. Ternyata ada seseorang yang ingin menemuinya yakni Uncu-nya (adik Ibunya)

“Eh, ada Ncu! Tumben Uncu datang ke sini?” tanya Rila penasaran.

“La, adikmu akan pulang hari ini dan sekarang dalam perjalanan” ucap Uncu dengan wajah datar.

“Ha, iya Ncu? Alhamdulillah kami bisa berkumpul lagi” ujar Rila bahagia.

“Ayo kita pulang?” ajak Uncu merunduk sedih.

“Eh, kenapa Uncu terlihat sedih? Harusnya bahagia dong, kan Syifa mau pulang” ucap Rila heran.

“Ayo, kita harus segera pulang!” tegas Uncu.

“Hmm… Rila nanti aja nyusul ya Ncu, soalnya tanggung karena bentar lagi bel berbunyi” jelas Rila.

“Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan adikmu? Syifa sangat merindukan kalian, ia ingin bertemu!” ujar Uncu kembali.

“Jelas mau dong Ncu, aku bahkan sangat merindukannya” jawab Rila.

“Kalau begitu, mari kita pulang!” ajak Uncu.

“Baiklah Ncu! Tapi bagaimana dengan sepedaku?” tanya Rila.

“Nanti titip aja dengan temanmu” ujar Uncu kepada Rila.

“Oh iya, aku ambil tas di kelas dulu ya, Ncu?” sahut Rila seraya berlari kecil menuju kelasnya.

Di sepanjang perjalanan, Uncu-nya hanya terdiam. Di sisi lain, Rila yang mengetahui bahwa Syifa akan segera pulang merasa sangat bahagia.

Sesampainya di rumah.

“Eh, kok semua terlihat sedih?” gumam Rila dalam hati.

Di sana sudah ada Najwa dan saudara-saudaranya yang lain. Mereka mencoba untuk menghibur Najwa yang menangis terisak-isak. Rila pun merasa ada yang aneh dengan mereka semua, ia pun mendekati Najwa dan berusaha menenangkannya.

“Wa, kenapa kamu bersedih? Sebentar lagi Syifa pulang dan kita akan berkumpul bersama seperti dulu” ujar Rila menghibur Najwa.

“Kakak,,, Syifa nggak akan bisa bersama kita lagi” ungkap Najwa sedih.

“Lah, kok kamu bicara seperti itu? Nggak baik tau!”Rila memarahi Najwa.

“Syifa, kak? Syifa udah nggak ada” Najwa memeluk Rila dengan erat.

“Apa? Tapi Uncu bilang Rila akan pulang, de! Dia akan kumpul bersama kita,” ucap Rila heran.

“Ncu, bilang ke Najwa kalau apa yang dia katakan itu nggak benar” sambung Rila. Uncunya hanya bisa menunduk sedih, ia tak berani menatap Rila.

“Ncu? Ayo jawab! Apakah semua yang Najwa katakan benar?” tanya Rila seraya melihat dengan mata yang berkaca-kaca.

Semua yang dikatakan Najwa itu benar, La! Syifa sudah pergi meninggalkan kita,” jawab Uncu gemetar.

Mendengar hal itu, Rila tak bisa menahan semuanya lagi. Ia langsung mengeluarkannya dalam tangisan yang tersedu-sedu. Betapa tidak? Ia bahkan tidak mengetahui dari awal bahwa adiknya sudah tiada, malah ia berangan-angan kalau kepulangan Syifa itu adalah kabar gembira bukan sebaliknya. Dengan perasaan sedih yang mendalam, Rila berlari ke rumahnya yang ada di depan rumah Neneknya. Di sana Rila melihat bunga yang sengaja ditanamnya untuk menyambut kepulangan adiknya, karena Syifa sangat menyukai bunga. Kemudian saat ia memasuki rumah, ia teringat kalau kado yang ingin Syifa lihat isinya akan tetapi ia mengatakan nanti malam. Dikarenakan hatinya yang terlalu gelisah dan dirundung kesedihan, ia berusaha mengadukan itu semua kepada Yang Maha Kuasa. Setiap sujud yang ia lakukan perlahan menenangkan hatinya, saat membaca Kitab Suci ia kembali meneteskan air mata karena mengingat begitu antusiasnya Syifa ingin mengkhatamkan Al-Qur’an.

Beberapa hari setelah pemakaman.

“La, ini ada titipan dari Syifa. Sebenarnya sudah jauh-jauh hari ia kumpulin uang agar bisa belikan ini untukmu, akan tetapi karena ia sudah tiada kami patungan untuk membelinya” ujar Bibinya sembari mengulurkan sebuah kado.

mendengar hal itu Rila terharu dengan apa yang Syifa siapkan untuknya dan  air matanya tak terbendung lagi.

“Ya Allah, de! Ternyata kamu telah menyiapkan ini untuk kakak” ucap Rila menutup wajahnya sambil menangis.

“Sudah, La! Terimalah ini” kata Bibi seraya memegang pundak Rila.Dengan tangan gemetar dan diiringi isak tangisnya, Rila menerima kado yang diulurkan Bibinya.

“Terima kasih, Bi?” ujar Rila mengusap air matanya.

Ketika Bibi melihat Rila sedang dirundung pilu, lalu memeluknya.

“Cobalah untuk ikhlas La, karena sebuah keikhlasan akan menghasilkan buah yang tak bisa dirasakan orang lain” bisik bibinya. Meski berat, Rila mencoba tetap tegar menghadapinya agar bisa menyemangati kedua orang tuanya.

Haruskah sebegitu dramatisnya hidup Rila, kehilangan adik kesayangan di momen ulang tahunnya. Tentu tak kan ada lagi gelak tawa Syifa yang menemani hari-hari ke depannya. Tak cukup sampai disitu, Rila juga tak kuasa menahan sedih merasakan perasaan orang tuanya. Campur aduk rasa hanya dia pendam sendiri, hanya dalam kelebat do’a sepertiga malam, nama Syifa sering digaungkan dalam kolong gelap langit malam. Moga hati yang merindu dalam alam dua dimensi, terobati dalam perpisahan yang abadi. (ESM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here