Walaupun dinilai negatif oleh umumnya manusia bangsa ini, perempuan pekerja seks yang disebut lonte itu mendapatkan nilai berbeda di kalangan seniman. Seperti dalam nyanyian Iwan Fals “Lonteku”. Lewat lagu itu, Iwan menceritakan kebaikan perempuan lonte membantu pelarian seorang residivis. Senada dengan itu dicantumkan pula dalam lagu Titiek Puspa, yang kemudian lagu itu dipopulerkan Ariel kala group bandnya masih bernama Peterpan dengan judul “Kupu-kupu malam”.
Tapi bagi saya tidak ada yang lebih indah selain untaian kalimat tentang para lonte dalam puisi W.S Rendra berjudul “Bersatulah pelacur-pelacur Kota Jakarta”. Tidak hanya itu, banyak pula dari para pelukis di belahan dunia menjadikan lonte sebagai objek yang sangat indah di atas kanvas mereka. Seniman, seolah mengatakan bahwa mereka tidak berbeda dengan kita. Apa yang mereka (lonte) lakukan juga sama halnya dengan profesi yang dilakoni banyak hewan berakal di muka bumi, sama-sama demi kehidupan.
Ada pula kisah menarik dari seorang perempuan yang disebut lonte di belahan benua lain, mantan film porno ternama di Italia, Cicciolina mencalonkan diri menjadi anggota parlemen di Roma. Dengan modal keindahan tubuh yang dia miliki, Cicciolina menyampaikan pidato menohok di hadapan publik, “Buah dadaku tidak akan melukai siapa pun, tapi peperangan Bin Laden membuat ribuan orang jadi korban,” kata Cicciliona.
Cicciolina atau yang bernama lain Ilona Staler itu berhasil duduk dua kali sebagai anggota parlemen. Dia (Cicciolina) juga mendirikan sebuah partai bernama Party Of Love bersama bintang porno lainnya. Cicciolina di kalangan para pendukungnya dinilai sebagai seorang pejuang hak-hak kaum perempuan dan kebebasan. Meskipun dia juga dinilai kontroversial oleh banyak orang.
Kita kesampingkan sejenak soal sebutan, penilaian tentang mereka dan kisah-kisah yang terjadi di kalangan perempuan disebut lonte itu. Boleh saja kita memberi stempel negatif dan menghakimi perbuatan mereka. Tapi kita sering lupa bertanya bagaimana dan mengapa mereka lahir?.
Ada banyak perempuan dengan label serupa berada di sekeliling kita. Kepada merekalah label perempuan hina itu kita sematkan. Bahkan, kesalahan yang terjadi di rumah kita tak jarang dinisbatkan kepada perempuan yang kita sebut lonte itu. Sebagaimana narasi yang dilantunkan oleh kaum intelektual, “maraknya perbuatan asusila di kalangan remaja, karena kebanyakan nonton pornografi”. Sudah barang tentu dalam adegan porno itu, perempuan berlabel “lonte”lah yang jadi pemeran utamanya. Dan memang dalam siklus kehidupan, sudah sangat lazim selalu mencari kambing hitam; siapa yang harus disalahkan. Maka maraknya perbuatan asusila pada remaja, bisa dikatakan “lonte”lah kambing hitamnya.
Dalam sebuah sinema karya Giuseppe Tornatore bercerita tentang perjalanan seorang perempuan menjadi lonte. Perempuan itu dalam perannya bernama Malena, sekaligus diabadikan menjadi judul sinema itu. Nama aslinya adalah Monica Belucci. Dia memiliki paras dan tubuh nan indah, sehingga dari kaum muda sampai ke yang tua terpikat dengan tubuh Malena. Semua pria yang bertemu dengannya, mencari kesempatan untuk meniduri Malena.



























