Wakaf: Saat Harta Berbicara Setelah Kita Tidak Lagi Bersabda

0
Edukasi Wakaf Sejak Dini, Mukti Ali,S.Ag, M.Si Beri Pemahaman kepada Siswa SMA

MINANGGLOBAL.ID, Sumbar – Payakumbuh, Di suatu senin pagi yang sunyi, saya berdiri di halaman sebuah masjid tua di pinggiran Kota Payakumbuh. Masjid itu berdiri kokoh meskipun usianya telah melewati setengah abad. Lantainya dingin, kubahnya masih megah, dan suara adzan berkumandang setiap waktu tanpa pernah putus. Saya bertanya kepada pengurusnya, “Siapa yang membangun masjid ini?” Beliau menjawab singkat, “Haji Muhammad, beliau sudah meninggal tiga puluh tahun lalu.”

Saya terhenyak.

Seorang manusia yang telah tiga puluh tahun berada di alam barzah, namun setiap hari namanya masih disebut dalam doa, setiap waktu ada orang yang shalat di tempat yang ia bangun, dan setiap senja ada anak-anak mengaji di beranda masjid yang ia wakafkan. Harta yang ia tinggalkan tidak habis dimakan waktu, justru menjelma menjadi sungai pahala yang tak pernah kering.

Itulah wakaf. Ia bukan sekadar sedekah biasa. Ia adalah bentuk kecemasan rohani seorang mukmin yang bertanya: setelah aku mati, apakah masih ada sesuatu yang akan terus berbicara untukku di sisi Allah?

Ketika Hukum Berhenti, Amal Terus Berlari

Secara bahasa, wakaf berarti al-habsu—menahan. Menahan harta agar tidak berpindah, tidak dijual, tidak diwariskan, dan tidak diperjualbelikan. Namun ironisnya, justru dengan “menahan” itulah ia mengalir selamanya. Seperti sungai yang dibendung, justru dengan bendungan ia mampu mengairi ribuan hektar sawah tanpa henti.

Rasulullah SAW mengajarkan ini kepada Umar bin Khattab ketika beliau mendapat sebidang tanah paling berharga di Khaibar. Beliau bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan untuk hartaku yang paling berharga ini?” Jawaban Nabi singkat namun mengguncang langit dan bumi: “Tahan pokoknya, dan sedekahkan hasilnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari situlah lahir sebuah konsep luar biasa: harta yang tidak lagi menjadi milik kita, justru menjadi milik Allah. Dan ketika Allah menjadi pemiliknya, maka pahalanya tidak akan pernah berhenti meskipun jasad kita telah menjadi tanah.

Sebuah Renungan yang Menggugah

Coba kita renungkan sejenak, Kita bekerja puluhan tahun, mengumpulkan harta, membeli rumah, menabung di bank, berinvestasi. Kita sering risau jika harga emas turun, gelisah jika nilai saham merosot, dan cemas jika aset kita tidak berkembang. Tapi pernahkah kita merasa cemas bahwa setelah mati, tidak ada lagi amal yang akan terus membawa nama kita ke hadirat Allah?

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 92:

“Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna, sampai kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Ayat ini bukan sekadar perintah. Ia adalah tantangan. Tantangan untuk bertanya pada diri sendiri: Apa harta paling berharga yang kita miliki? Dan kemudian, apakah kita berani menahannya untuk Allah?

Dunia Bicara Keuntungan, Akhirat Bicara Keabadian

Ada dua akibat jika seorang mukmin melewatkan kesempatan berwakaf, Dua kerugian yang jarang kita sadari.

Pertama, di dunia. Kita kehilangan kesempatan untuk menciptakan legacy yang abadi. Di Payakumbuh, saya melihat banyak keluarga besar yang berselisih di pengadilan hanya untuk memperebutkan warisan. Tapi saya juga melihat keluarga yang justru semakin bersatu karena wakaf yang ditinggalkan orang tua mereka—masjid yang terus makmur, anak yatim yang terus disantuni, dan air yang terus mengalir dari sumur wakaf. Mana yang lebih membanggakan?

Wakaf adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah terkena inflasi nilai pahala. Tidak ada krisis yang bisa memangkas pahalanya. Tidak ada pasar yang bisa membuatnya jatuh. Ia tumbuh sendiri di sisi Allah, seperti sabda Nabi: “Satu sedekah jariyah akan mengalir pahalanya meskipun pewakaf telah meninggal.”

Kedua, di akhirat. Di sinilah letak konsekuensi yang paling mendalam. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Mari kita bayangkan. Kita datang ke padang Mahsyar dengan membawa catatan amal. Betapa bahagianya jika di saat semua amal telah selesai, tiba-tiba lembaran catatan itu masih bertambah. Ada air yang terus mengalir dari sumur yang kita wakafkan. Ada anak yatim yang terus tersenyum karena santunan dari aset wakaf kita. Ada masjid yang terus mengumandangkan takbir, dan setiap sujud di dalamnya adalah sedekah yang tercatat untuk kita.

Sebaliknya, betapa ruginya jika kita datang dengan catatan amal yang telah final—terhenti di saat nafas terakhir—tanpa ada tambahan satu pun. Bukankah kita sangat membutuhkan setiap kebaikan di saat tiada seorang pun yang bisa menolong?

Jangan Tunggu Kaya, Jangan Tunggu Tua

Kesalahan terbesar kita adalah menganggap wakaf hanya untuk orang kaya. Tidak. Wakaf adalah untuk setiap Muslim yang sadar bahwa hidupnya hanya sementara.

Saya sering bertemu dengan guru honorer yang dengan susah payah membeli sebidang tanah kecil, lalu diwakafkannya untuk mushola di kampungnya. Nilai materinya tidak seberapa, tetapi di mata Allah nilainya tidak terukur. Rasulullah mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit (HR. Bukhari & Muslim).

Jangan tunggu kaya. Jangan tunggu tua. Karena kematian tidak pernah memberi janji kepada siapa pun untuk menunggu.

Penutup: Berbicaralah dengan Hartamu

Di suatu sore di Payakumbuh, saya berdiri lagi di masjid tua itu. Saya memandang dindingnya yang dicat ulang oleh generasi ketiga dari keluarga pewakaf. Saya melihat anak-anak kecil berlarian di halamannya. Saya mendengar suara adzan yang berkumandang sama persis seperti tiga puluh tahun lalu.

Dan saya berbisik dalam hati: Alangkah indahnya jika suatu saat nanti, ketika jasadku telah tiada, masih ada air yang mengalir karena wakafku, masih ada anak yatim yang tersenyum karena wakafku, dan masih ada sujud di mihrab yang tercipta dari wakafku.

Maka wahai diriku, dan wahai saudaraku seiman…

Jangan biarkan hartamu hanya menjadi saksi bisu perjalanan hidupmu. Jadikan ia sebagai saksi yang terus bersaksi untukmu di sisi Allah.

Karena wakaf adalah cara paling indah bagi seorang mukmin untuk mengatakan: “Aku masih ingin bersedekah, meskipung aku telah tiada.”(M)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here