MINANGGLOBAL.ID, Sumbar – Payakumbuh,-Fenomena sindiran halus yang dibungkus dengan kata-kata bijak kian marak di tengah masyarakat, terutama di era media sosial.
Kalimat-kalimat yang sekilas terdengar dewasa, namun menyimpan nada merendahkan, sering kali muncul sebagai respons terhadap keberhasilan orang lain.
Kalimat seperti itu sering lahir dari rasa iri yang dibungkus seolah-olah bijak. Ketika orang lain mencapai sesuatu, yang muncul bukan apresiasi, tapi sindiran halus agar pencapaian itu terlihat biasa saja. Alih-alih memberikan penghargaan, sebagian orang justru memilih mereduksi keberhasilan pihak lain dengan narasi yang tampak menenangkan, namun sesungguhnya menyudutkan.
Yang lebih memprihatinkan, fenomena ini tidak jarang dibungkus dengan narasi agama. Ada yang membawa-bawa dalil, nasihat, atau kata-kata religius untuk menutupi rasa iri, seolah-olah sedang mengingatkan, padahal yang tersirat justru upaya merendahkan pencapaian orang lain.
Ironisnya, perilaku negatif seperti ini kerap datang dari orang-orang yang merasa atau mengaku paling paham tentang agama. Dengan balutan kata-kata yang terdengar religius, mereka seolah berada di posisi benar, padahal yang terjadi justru menyisipkan sikap iri dan merendahkan orang lain secara halus.
Sikap semacam ini menjadi semakin miris karena agama yang seharusnya menjadi sumber kebaikan, ketulusan, dan penghargaan terhadap sesama, justru dijadikan alat untuk membenarkan perasaan iri. Seakan-akan sedang berdakwah, namun yang muncul justru penilaian yang menyudutkan dan tidak tulus.
Padahal, kedewasaan emosional dan spiritual seseorang terlihat dari kemampuannya menghargai pencapaian orang lain tanpa prasangka. Memberikan apresiasi bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan beragama.
Yang benar-benar dewasa adalah mereka yang mampu menghargai keberhasilan orang lain, bukan merendahkannya. Jika belum mampu berprestasi, setidaknya tidak sibuk mengecilkan capaian orang lain.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa etika dalam berkomunikasi, baik di dunia nyata maupun digital, harus terus dijaga. Agama semestinya menjadi pedoman untuk menebarkan kebaikan, bukan dijadikan tameng untuk membungkus rasa iri dengan kata-kata yang tampak bijak.




























