MINANGGLOBAL.ID, Sumbar – Payakumbuh,- Di saat namanya diumumkan sebagai peraih medali emas pada ajang Shorinji Kempo Porprov Sumatera Barat, ada satu sosok yang paling ingin dilihatnya tersenyum bangga. Sosok itu adalah ayahnya, Saidina Irawan, yang pada hari pertandingan justru tengah terbaring di RSUP Dr. M. Djamil Padang untuk menjalani kemoterapi akibat kanker nasofaring stadium 4
Bagi Rasyaidina Mudzaffar, medali emas yang diraihnya bukan sekadar hasil dari latihan bertahun-tahun. Dua medali emas itu menjadi persembahan istimewa untuk sang ayah yang sedang berjuang melawan penyakitnya, sekaligus bentuk penghormatan kepada kedua orang tua yang telah mengenalkannya pada dunia bela diri sejak kecil.
Remaja kelahiran Matur, 10 Oktober 2008, yang kini duduk di bangku SMA Negeri 1 Kota Payakumbuh itu berhasil meraih dua medali emas dalam cabang olahraga Shorinji Kempo. Ia menjadi yang terbaik pada nomor Embu Tandoku Putra Kyu 1 dan Embu Pasangan Putra Kyu 1.
Namun, di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita tentang mimpi yang tertunda, pengorbanan seorang ibu, kedisiplinan yang ditempa sejak usia dini, dan harapan seorang anak yang ingin melihat ayahnya kembali sehat.
Rasyaidina merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia mulai berlatih Shorinji Kempo ketika berusia tujuh tahun. Setahun setelahnya, saat usianya menginjak sepuluh tahun, ia mulai merasakan atmosfer pertandingan. Sejak saat itu, perjalanan panjangnya sebagai atlet mulai terbentuk.
Kempo bukan dunia yang asing bagi keluarganya. Kedua orang tuanya merupakan mantan atlet Sumatera Barat. Mereka memahami bahwa menjadi atlet tidak cukup hanya dengan bakat dan keinginan untuk menang. Ada disiplin, ketekunan, pengorbanan, dan latihan keras yang harus dijalani.
Salah satu hal yang paling diingat Rasyaidina selama menjalani latihan adalah beratnya latihan fisik yang diberikan kedua orang tuanya. Baginya, proses tersebut bukan sekadar latihan untuk menguatkan tubuh, melainkan juga cara membentuk mental agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Didikan keras itu perlahan menjadi bekal. Di arena pertandingan, ia belajar mengendalikan diri, menjaga konsentrasi, dan memberikan kemampuan terbaiknya. Nilai-nilai itulah yang kemudian mengantarkannya meraih dua medali emas.
Namun, ada alasan yang jauh lebih dalam yang membuat Rasyaidina terus bertahan di dunia Kempo. Alasan itu berawal dari sebuah cerita pada 2008, ketika sang ibunda tengah mempersiapkan diri untuk memperjuangkan mimpinya di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Segala persiapan telah dilakukan. Latihan demi latihan dijalani demi mewujudkan impian yang telah diperjuangkan. Akan tetapi, sebuah kabar mengubah arah perjalanan tersebut. Sang ibu mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung.
Perjalanan menuju pertandingan harus terhenti. Bukan karena ia tak mampu berjuang, melainkan karena ada kehidupan kecil yang kini harus dijaga. Mimpi yang telah dipersiapkan dengan penuh kesungguhan itu akhirnya harus tertunda demi tanggung jawab yang lebih besar.
Barangkali, ketika keputusan itu diambil, tak pernah terbayangkan bahwa kelak anak yang dikandungnya akan tumbuh menjadi seorang atlet yang berdiri di arena pertandingan, membawa nama Kota Payakumbuh, dan mempersembahkan medali emas melalui olahraga yang juga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kedua orang tuanya.
Kini, bertahun-tahun setelah pengorbanan itu, cerita tersebut menemukan babak baru. Rasyaidina meneruskan perjalanan di dunia olahraga yang telah membesarkannya. Ia membawa semangat dari mimpi ibunya yang tertunda, sekaligus meneruskan nilai perjuangan yang diwariskan kedua orang tuanya.
Akan tetapi, di tengah kebahagiaan meraih prestasi, ada ujian besar yang sedang dihadapi keluarganya.
Sang ayah, Saidina Irawan, kini tengah berjuang melawan kanker nasofaring stadium 4. Ketika Rasyaidina bertanding di partai final, ayahnya tidak berada di tribun untuk menyaksikan perjuangannya secara langsung. Sang ayah justru sedang menjalani kemoterapi di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Ada jarak yang memisahkan keduanya. Di satu tempat, seorang anak berjuang memberikan penampilan terbaiknya di arena pertandingan. Di tempat lain, ayahnya menjalani perjuangan yang tak kalah berat demi mempertahankan kesehatannya.
Rasyaidina mengerahkan kemampuan dan mentalnya untuk meraih kemenangan. Sementara itu, sang ayah harus menghadapi rangkaian pengobatan yang menguras tenaga dan membutuhkan ketabahan. Pada hari final itu, dua perjuangan berlangsung bersamaan, terhubung oleh ikatan keluarga dan harapan yang sama.
Dua medali emas akhirnya berhasil diraih Rasyaidina. Namun, di balik kebanggaan atas prestasi tersebut, ada harapan sederhana yang jauh lebih berarti baginya daripada sekadar berdiri di podium juara.
Harapan itu menjadi pesan yang ingin disampaikannya kepada sang ayah. Di tengah perjuangan menghadapi penyakit, Rasyaidina berharap ayahnya diberikan kekuatan untuk menjalani pengobatan dan segera pulih.
Dua medali emas yang dibawanya pulang menjadi bukti bahwa perjuangan dan didikan kedua orang tuanya tidak sia-sia. Lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi cara seorang anak menunjukkan bahwa ia terus berusaha memberikan yang terbaik, meski orang yang paling ingin dibahagiakannya sedang menghadapi ujian berat.
Kisah Rasyaidina bukan hanya tentang keberhasilan seorang atlet muda meraih dua medali emas. Ini adalah cerita tentang bagaimana mimpi dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, tentang pengorbanan seorang ibu yang memilih menjaga kehidupan, dan tentang seorang ayah yang tetap menjadi sumber harapan meski sedang berjuang melawan penyakit.
Di arena Kempo, Rasyaidina telah membuktikan kemampuannya. Namun, perjuangan terbesarnya kali ini mungkin bukan tentang berapa banyak medali yang bisa ia kumpulkan, melainkan tentang menjaga semangat dan harapan untuk keluarganya.
Sebab, bagi Rasyaidina, kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya ketika namanya dipanggil sebagai juara, melainkan ketika suatu hari nanti ia bisa kembali berada di samping ayahnya, melihat sang ayah tersenyum, dan mengatakan bahwa perjuangannya di arena pertandingan ia persembahkan untuk orang yang sangat dicintainya.
Dua medali emas telah ia raih. Kini, ada satu kemenangan yang paling ia nantikan: kesembuhan sang ayah.
























